Nyeri Akut Abdomen

•November 17, 2008 • 7 Komentar

Akut Abdomen ( versi .pdf)


Akut abdomen merupakan sebuah terminologi yang menunjukkan adanya keadaan darurat dalam abdomen yang dapat berakhir dengan kematian bila tidak ditanggulangi dengan pembedahan. Keadaan darurat dalam abdomen dapat disebabkan karena perdarahan, peradangan, perforasi atau obstruksi pada alat pencemaan. Peradangan bisa primer karena peradangan alat pencernaan seperti pada appendisitis atau sekunder melalui suatu pencemaran peritoneum karena perforasi tukak lambung, perforasi dari Payer’s patch,pada typhus abdominalis atau perforasi akibat trauma.

Pada akut abdomen, apapun penyebabnya, gejala utama yang menonjol adalah nyeri akut pada daerah abdomen. Kadang-kadang penyebab utama sudah jelas seperti pada trauma abdomen berupa vulnus abdominis penetrans namun kadang-kadang diagnosis akut abdomen baru dapat ditegakkan setelah pemeriksaan fisik serta pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan labo-

ratorium serta pemeriksaan radiologi yang lengkap dan masa observasi yang ketat.


Nyeri abdomen dan perdarahan merupakan suatu malapetaka yang sangat besar bagi seorang penderita yang menderita akut abdomen alat pencernaan pada orang dewasa. Oleh karena

itu dokter yang memberikan pertolongan pertama harus memastikan dengan segera

1. diagnosis kerja sementara,

2. mengambil langkah-langkah untuk membuktikan kebenaran diagnosis dan

3. mengambil langkah-langkah penanggulangan yang tepat selama pembuktian kebenaran diagnosis.


Untuk penegakan diagnosis diperlukan pengumpulan data dengan mengadakan penelitian terhadap penderita melalui pemeriksaan fisik penderita secara sistematis yang dimulai dengan

anamnesis penderita ditambah dengan pemeriksaan tambahan dan khusus. Bila penderita tidak sadar atau terlalu sakit bisa dilakukan anamnesa keluarga (allo-anamnesa)

Tabel 1. Diagnosis Banding Akut Abdomen



Anamnesis

Pada suatu penyakit bedah darurat anamnesis merupakan pemeriksaan yang sangat panting. Bahan-bahan utama yang dapat diperoleh melalui anamnesis yang memberikan informasi

Sangat berharga pads proses penegakan diagnosis adalah :


A. Lokasi nyeri

Di atas telah diberikan daftar kemungkinan diagnosis banding dari penyakit-penyakit berdasarkan lokasi.

B. Radiasi perasaan nyeri

Kadang-kadang informasi mengenai cara penyebaran rasa nyeri (radiasi perasaan nyeri) dapat memberikan petunjuk mengenai asal-usul atau lokasi penyebab nyeri itu. Nyeri yang berasal dari saluran empedu menjalar ke sam ping sampai bagian bawah scapula kanan. Nyeri karena appendicitis dapat mulai dari daerah epigastrium untuk ketnudian berpindah ke kwadran kanan bawah. Nyeri dari daerah rektum dapat menetap di daerah punggung bawah.

C. Bentuk rasa nyeri

Nyeri pada akut abdomen dapat berbentuk nyeri terusmenerus atau berupa kolik

D. Perubahan fisiologi alat pencernaan

1. Nafsu makan, mual, muntah

2. Defekasi teratur, mencret, obstipasi

3. Perut kembung, serangan kolik

4. Sudah berapa lama semua perubahan ini berlangsung

E. Perubahan anatomi

1. Adanya benjolan neoplasma

2. Adanya luka akibat trauma

3. Adanya bekas operasi


Pemeriksaan fisik dilaksanakan dengan memeriksa dulu keadaan umum penderita (status generalis) untuk evaluasi keadaan sistim pemafasan, sistim kardiovaskuler dan sistim saraf yang merupakan sistim vital untuk kelangsungan kehidupan. Pemeriksaan keadaan lokal (status lokalis abdomen) pada penderita dilaksapakan secara sistematis dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Tanda-tanda khusus pada akut abdomen tergantung pada penyebabnya seperti trauma, peradangan, perforasi atau obstruksi.


Inspeksi

• Tanda-tanda khusus pada trauma daerah abdomen adalah :

• Penderita kesakitan. Pernafasan dangkal karena nyeri didaerah abdomen.

• Penderita pucat, keringat dingin.

• Bekas-bekas trauma pads dinding abdomen, memar, luka,prolaps omentum atau usus.

• Kadang-kadang pada trauma tumpul abdomen sukar ditemukan tanda-tanda khusus, maka harus dilakukan pemeriksaan berulang oleh dokter yang sama untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perubahan pada pemeriksaan fisik.

• Pada ileus obstruksi terlihat distensi abdomen bila obstruksinya letak rendah, dan bila orangnya kurus kadang-kadang terlihat peristalsis usus (Darm-steifung).

• Keadaan nutrisi penderita.

B. Palpasi

a) Akut abdomen memberikan rangsangan pads peritoneum melalui peradangan atau iritasi peritoneum secara lokal atau umum tergantung dari luasnya daerah yang terkena iritasi.

b) Palpasi akan menunjukkan 2 gejala :

1. Perasaan nyeri

2. Kejang otot (muscular rigidity, defense musculaire)



1.Perasaan nyeri

Perasaan nyeri yang memang sudah ada terus menerus akan bertambah pads waktu palpasi sehingga dikenal gejala nyeri tekan dan nyeri lepas. Pada peitonitis lokal akan timbul rasa nyeri di daerah peradangan pads penekanan dinding abdomen di daerah lain.

2. Kejang otot (defense musculaire, muscular rigidity)

Kejang otot ditimbulkan karena rasa nyeri pads peritonitis diffusa yang karena rangsangan palpasi bertambah sehingga secara refleks terjadi kejang otot.


C. Perkusi

Perkusi pads akut abdomen dapat menunjukkan 2 hal.

1) Perasaan nyeri oleh ketokan pads jari. Ini disebut sebagai nyeri ketok.

2) Bunyi timpani karena meteorismus disebabkan distensi usus yang berisikan gas pads ileus obstruksi rendah.

D. Auskultasi

Auskultasi tidak memberikan gejala karena pada akut abdomen terjadi perangsangan peritoneum yang secara refleks akan mengakibatkan ileus paralitik.

E. Pemeriksaan rectal toucher atau perabaan rektum dengan jari telunjuk juga merupakan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi adanya trauma pads rektum atau keadaan ampulla recti

apakah berisi faeces atau teraba tumor.


Setelah data-data pemeriksaan fisik terkumpul diperlukan juga pemeriksaan tambahan berupa :

1. Pemeriksaan laboratorium

A) Pemeriksaan darah rutin

Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi perdarahan terus menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit.

Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak terutama pada kemungkinan ruptura lienalis.

Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pads hepar.


B) Pemeriksaan urine rutin

Menunjukkan adanya trauma pads saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.

2. Pemeriksaan radiologi

A) Foto thoraks

Selalu harus diusahakan pembuatan foto thoraks dalam posisi tegak untuk menyingkirkan adanya kelainan pada thoraks atau trauma pads thoraks.

Harus juga diperhatikan adanya udara bebas di bawah diafragma atau adanya gambaran usus dalam rongga thoraks pada hernia diafragmatika.



B) Plain abdomen foto tegak

Akan memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retroperitoneal dekat duodenum, corpus alienum, perubahan gambaran usus.

C) IVP (Intravenous Pyelogram)

Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan trauma pada ginjal.

D) Pemeriksaan Ultrasonografi dan CT-scan

Bereuna sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan retroperitoneum.


3.Pemeriksaan khusus

A) Abdominal paracentesis

Merupalcan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari 100.000 eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah dimasukkan 100–200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.

B) Pemeriksaan laparoskopi

Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber penyebabnya.

C) Bila dijumpai perdarahan dan anus perlu dilakukan rektosigmoidoskopi.

D) Pemasangan nasogastric tube (NGT)

untuk memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen.


Dari data yang diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan dan pemeriksaan khusus dapat diadakan analisis data untuk memperoleh diagnosis kerja dan masalah-masalah sampingan yang perlu diperhatikan. Dengan demikian dapat ditentukan tujuan pengobatan bagi penderita dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengobatan.


TUJUAN PENGOBATAN

Dapat dibagi dua :

1) Penyelamatan jiwa penderita

2) Meminimalisasi kemungkinanterjadinyacacaddalam fungsi fisiologis alat pencemaan penderita.


Biasanya langkah-langkah itu terdiri dari :

1) Tindakan penanggulangan darurat

A) Berupa tindakan resusitasi untuk memperbaiki sistim pernafasan dan kardiovaskuler yang merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita. Bila sistim vital penderita sudah stabil dilakukan tindakan lanjutan berupa (B) dan (C).

B) Restorasi keseimbangan cairan dan elektrolit.

C) Pencegahan infeksi dengan pemberian antibiotika.



2)Tindakan penanggulangan definitif

Tujuan pengobatan di sini adalah :

1) Penyelamatan jiwa penderita dengan menghentikan sumber perdarahan.

2) Meminimalisasi cacad yang mungkin terjadi dengan cara :

a. menghilangkan sumber kontaminasi.

b. meminimalisasi kontaminasi yang telah terjadi dengan membersihkan rongga peritoneum.

c. mengembalikan kontinuitaspassage usus dan menyelamatkan sebanyak mungkin usus yang sehat untuk meminimalisasi cacat fisiologis.


Tindakan untuk mencapai tujuan ini berupa operasi dengan membuka rongga abdomen yang dinamakan laparotomi.


Laparotomi eksplorasi darurat

A) Tindakan sebelum operasi

1. Keadaan umum sebelum operasi setelah resusitasi sedapat mungkin harus stabil. Bila ini tidak mungkin tercapai karena perdarahan yang sangat besar, dilaksanakan operasi langsung untuk menghentikan sumber perdarahan.

2. Pemasangan NGT (nasogastric tube)

3. Pemasangan dauer-katheter

4. Pemberian antibiotika secara parenteral pads penderita dengan persangkaan perforasi usus, shock berat atau trauma multipel.

5. Pemasangan thorax-drain pads penderita dengan fraktur iga, haemothoraks atau pneumothoraks.

B) Insisi laparotomi untuk eksplorasi sebaiknya insisi median atau para median panjang.

C) Langkah-langkah pada laparotomi darurat adalah :

1. Segera mengadakan eksplorasi untuk menemukan sumber perdarahan.

2. Usaha menghentikan perdarahan secepat mungkin.

Bila perdarahan berasal dari organ padat penghentian perdarahan dicapai dengan tampon abdomen untuk sementara.

Perdarahan dari arteri besar hams dihentikan dengan penggunaan klem vaskuler.

Perdarahan dari vena besar dihentikan dengan penekanan langsung.

3. Setelah perdarahan berhenti dengan tindakan darurat diberikan kesempatan pads anestesi untuk memperbaiki volume darah.

4. Bila terdapat perforasi atau laserasi usus diadakan penutupan lubang perforasi atau reseksi usus dengan anastomosis.

5. Diadakan pembersihan rongga peritoneum dengan irigasi larutan NaCl fisiologik.

6. Sebelum rongga peritoneum ditutup harus diadakan eksplorasi sistematis dari seluruh organ dalam abdomen mulai dari kanan atas sampai kiri bawah dengan memperhatikan daerah

retroperitoneal duodenum dan bursa omentalis.

7. Bila sudah ada kontaminasi rongga peritoneum digunakan drain dan subkutis serta kutis dibiarkan terbuka.



di sunting dari Cermin Dunia Kedokteran

DRAFT PEDOMAN PENANGGULANGAN/PENANGANAN MALARIA DIDAERAH BENCANA

•November 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN:
• DIAGNOSIS DENGAN RAPID DIAGNOSIS TEST (RDT)
• PENGOBATAN MALARIA FALCIPARUM RINGAN TANPA KOMPLIKASI LINI PERTAMA DENGAN KOMBINASI ARTESUNATE DAN AMODIAKUIN DAN LINI KEDUA DENGAN KINA DAN TETRACYCLINE ATAU DOXYCYCLINE:
Komposisi obat :
Artesunat : 50 mg/ tablet
Amodiakuin : 200 mg/ tablet ≈ 153 mg amodiakuin base / tablet
Semua pasien (kecuali ibu hamil dan anak usia < 1 tahun) diberikan tablet Primakuin (1 tablet berisi: 15 mg primakuin basa ) dengan dosis 0,75 mg basa/kgBB/oral, dosis tunggal pada hari I (hari pertama minum obat).
Dosis pada tabel diatas merupakan perhitungan kasar bila penderita tidak ditimbang berat badannya. Dosis yang direkomendasi berdasarkan berat badan adalah:
Artesunat: 4 mg/kgBB dosis tunggal/hari/oral, diberikan pada hari I, hari II dan hari III ditambah Amodiakuin: 25 mg basa/kgBB selama 3 hari dengan pembagian dosis: 10 mg basa/kgBB/hari/oral pada hari I dan hari II, serta 5 mg basa/kgBB/oral pada hari III.

pedoman malaria di daerah bencana (pdf)

World Malaria Report 2008

•November 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

The large, round numbers that delineate the immense and
persistent burden of malaria have become a familiar part
of discussions in the global public health forum: 3 billion
people at risk of infection in 109 malarious countries and
territories and around 250 million cases annually, leading
to approximately 1 million deaths. In 2004, Plasmodium
falciparum was among the leading causes of death worldwide
from a single infectious agent (1).

These commonly-cited statistics have underpinned a
renewed assault on malaria, which has been under way
since the turn of the millennium. There is an emerging
consensus on how best to use refined methods for malaria
prevention and treatment, notably long-lasting insecticidal
nets (LLIN) and artemisinin-based combination therapy
(ACT), backed by indoor residual praying (IRS) (2–4). More
widespread agreement on policy and strategy has stimulated
leaders of the countries most affected, backed by
international organizations and donors, to set increasingly
ambitious targets for control: that is, to achieve at least
80% coverage of key interventions by 2010 (5). Beyond
Scaling Up For Impact (SUFI) (6), Malaria No More (7) and
renewed calls for action by the UN Secretary General, there
is active debate about the possibility of large-scale malaria
elimination (8–10).

As malaria control intensifies, it is vital to monitor
malaria burden and trends, and to track the coverage
and impact of interventions. While malaria undoubtedly
imposes a major burden on health, estimates of the numbers
of cases and deaths have been, for many countries,
too inaccurate to establish firm baselines against which
to evaluate the success of control measures. Therefore,
while each year more people are protected against infected
mosquitoes, and more have access to correct antimalarial
medicines, measures of the number of people who need
and who receive these services are still not sufficiently
precise, either for programme planning or for evaluation
against coverage targets. Most difficult of all is the assessment
of epidemiological impact. Although malaria control
programmes are not conducted as controlled experiments,
there are valid methods for evaluating impact from surveillance
and survey data. However, all such methods require
accurate data.

World malaria Report 2008 (pdf)

Kumpulan Do’a Dalam Al-Qur’an dan Sunnah

•November 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

1. Bacaan ketika bangun dari tidur

Daftar Isi
1. Bacaan ketika bangun dari tidur
2. Doa ketika mengenakan pakaian
3. Doa bagi orang yang mengenakan pakaian baru
4. Doa bagi orang yang mengenakan pakaian baru
5. Doa ketika melepaskan baju
6. Doa masuk WC
7. Doa keluar dari WC
8. Doa ketika memulai wudhu
9. Doa setelah selesai wudhu
10. Doa ketika keluar dari rumah

koleksidoa download…

Persalinan Normal

•November 11, 2008 • 1 Komentar

PERSALINAN NORMAL
60 Langkah Asuhan Persalinan
Kala – dua – tiga – empat

I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA DUA
1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua.

  • Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
  • Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya.
  • Perineum menonjol.
  • Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.

II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN

  • Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan
    ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus
    set.
  • Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
  • Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci kedua tangan dengan
    sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
    pakai/pribadi yang bersih.
  • Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
  • Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan
    disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi
    tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik.

Selengkapnya Download,,,

Buku Saku Gastroenterologi

•November 11, 2008 • 3 Komentar

Dalam Artikel berikut ini akan diuraikaan beberapa kelainan gastroenterologi yang sering terjadi, dibahas sesuai dengan definisi, etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Diagnostik dan juga penatalaksanaannya.

Beberapa bagian di antaranya memuat kajian singkat tentang :

  1. Nyeri Abdomen
  2. GANGGUAN ESOFAGUS DAN GASTER
  3. PERDARAHAN GASTROINTESTINAL
  4. DIARE
  5. PENYAKIT DIVERTIKULAR
  6. PENYAKIT RADANG USUS
  7. PANKREATITIS
  8. HEPATITIS
  9. SIROSIS
  10. ASITES
  11. PENYAKIT TRAKTUS BILIARIS
  12. dan masih banyak lagi

Download selengkapnya…

Saya ucapkan terima kasih kepada penulis artikel ini karena saya bisa mendapatkannya dengan gratis, jadi saya hanya berusaha untuk dapat menyalurkan ilmu yang bermanfaat ini kepada rekan-rekan mahasiswa sekalian dengan harapan dapat memudahkan teman-teman dalam semakin berkemangnya ilmu kedokteran dewasa ini.

Catatan Kuliah Obgyn FKUI

•November 11, 2008 • 6 Komentar

Tentunya bagi mhswa FK angkatan 90an masih inget kan dgn catatan kuliah obgin koas FK UI. Kali ini catatan kuliah itu digabung dan dijadikan file pdf. ku dapatnya dari medicalzone.org.

Catatan kuliah ini cukup bermanfaat dan sgt membantu. Tapi perlu juga diperhatikan seksama karena telah ada kepustakaan yg terbaru.

download catkul_-obgynui

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.